Kamis, 13 November 2014

Pengantar Bisnis (Tugas 3)

PERSAINGAN PRODUK LOKAL VS PRODUK ASING

Maraknya perdagangan bebas mengakibatkan banyaknya barang-barang impor dari luar negeri masuk ke Indonesia dan tentu saja berdampak pada penjualan produk lokal. Hal ini membuat persaingan antar produk dalam negeri semakin berat. Salahsatunya fenomena merebaknya produk impor China di pasar domestic dapat dijadikan bukti bahwa produk yang memiliki daya saing tinggi dan harga yang kompetitif dapat merajai pasar dan mengalahkan produk lokal. Daya saing merupakan kata kunci untuk menentukan keunggulan, juga diyakini sebagai salah satu kunci mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

Faktor penyebab lemahnya daya saing produk dalam negeri
Mahalnya biaya transportasi dan ongkos produksi di Indonesia berdampak kepada harga suatu produk menjadi tidak kompetitif di pasar Lokal juga pasar Internasional. Hasil industri Indonesia nyaris hanya bisa bertahan pada pasar dalam negeri. Bahkan sekarang sudah mulai tertekan karena desakan barang yang sama dari China, yang harganya pun jauh lebih murah walaupun memiliki kelemahan pada sisi mutu.

Kelemahan produk dalam negeri
Ketidakmampuan industri Indonesia  melakukan pengurangan ongkos produksi dan distribusi, serta hancurnya sarana infrastruktur antar pulau dan banyak yang sudah mengalami kerusakan berat, ditambah lagi bahan baku yang digunakan memakai barang import membuat harga produk lokal melambung tinggi di bandingkan produk luar negeri.

Permasalahan lain
Kemauan dari segi sumber daya manusia tidak cukup, karena fasilitas pendukungnya belum terpenuhi. Sebagai contoh kebanyakan masyarakat Indonesia hanya mengandalkan pengalaman yang dimiliki tanpa diiringi penguasaan konsep dan teknologi yang membuat tidak maksimalnya proses produksi.
Permasalahan lainnya penyaluran dana dari pemerintah kepada pengusaha kecil menengah belum termanfaatkan secara maksimal. Karena ternyata dalam penyalurannya banyak yang tidak tepat sasaran.
Kurangnya kesadaran dan kebanggaan untuk menggunakan produk dalam negeri, merupakan pola pikir kebanyakan masyarakat Indonesia bahwa produksi luar negeri selalu atau bahkan selamanya memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan produksi dalam negeri. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menganggap bahwa membeli barang produksi dalam negeri sama saja dengan membuang uang. Sangat signifikan konsep ini jika kita melihat keadaan yang sebenernya. Contohnya saja mungkin banyak yang akan tercengang ketika mereka megetahui bahwa banyak perusahaan barang-barang label luar menggunakan jasa orang Indonesia atau bahan baku dari dalam negeri untuk membuat produk mereka.
Untuk itu, kita harus banyak belajar dari masyarakat korea dan jepang,  mereka akan merasa lebih bangga dan lebih elit jika menggunakan produk Negara mereka sendiri. Bahkan masyarakat jepang hampir anti dengan produk impor. Mereka akan tetap mengonsumsi produk dari Negara mereka sendiri walaupun harganya lebih mahal dan kualitas lebih rendah. Tetapi dengan tindakan seperti itu justru membangkitkan semangat produsen dalam negeri untuk memberikan yang lebih baik bagi para konsumen mereka.

Dampak Positif
·         Semakin mudah memperoleh barang-barang yang dibutuhkan masyarakat yang belum bisa diproduksi di Indonesia
·         Memberikan kesempatan kepada masyarakat menengah kebawah untuk bias memiliki barang-barang berbasis teknologi dengan harga murah.

Dampak Negatif
·         Terancamnya para pengusaha UMKM di Indonesia.
·         Kurang terserapnya tenaga kerja dalam negeri.
·         Kemungkinan hilangnya pasar produk ekspor Indonesia karena kalah bersaing dengan produksi Negara lain yang lebih murah dan berkualitas. Contoh : Pertanian, kalah jauh dari Thailand.
·         Membanjirnya produk impor di pasaran Indonesia sehingga mematikan usaha-usaha di Indonesia. Contoh : ancaman produk batik China.
·         Menjadikan sifat masyarakat Indonesia yang konsumtif untuk membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan diakarenakan harga yang murah.

Langkah-langkah yang perlu diterapkan untuk mengembangkan produksi dalam negeri
·         Kita harus mengkaji kebijakan-kebijakan China dalam perekonomian khususnya dalam memajukan industry perdagangannya.
·         Dengan melakukan pembenahan baik dari segi regulasi perdaganan maupun dalam hal kebijakan perdagangan.
·         Meningkatkan mutu sumber daya manusia, baik pelaku usaha maupun tenaga kerjanya.
·         Memaksimalkan peran akademisi seperti para peneliti dan ahli ilmu teknologi untuk menunjang dunia usaha.
·         Dengan menerapkan dan melakukan peningkatan program P3DN. (merupakan upaya pemerintah untuk.
·         mendorong masyarakat agar lebih menggunakan produk dalam negeri disbanding produk luar negeri).



Selasa, 04 November 2014

Pengantar Bisnis (tugas 2)

Top Brand Convenience Store di Indonesia :
·         7-Eleven (168 stores)
·         Alfamart (approx. 7,000 Stores)
·         Alfamidi (452 stores)
·         Carrefour(85 stores)
·         Ceriamart(70 stores)
·         FamilyMart(16 stores)
·         Indomaret (8,039 stores)
·         Lawson(63 Stores)

Sampel :
Saya memilih sampel 7-Eleven karena sejarah 7-Eleven awalnya, nama toko penjual barang-barang kebutuhan sehari-hari itu adalah Tote, karena konsumen harus men-tote (membungkus) bawaan mereka. Pada 1946, mereka membuka tokonya dari pukul 7 pagi sampai pukul 11 malam. Itulah asal-usul nama 7-Eleven. Jam buka ini juga merupakan jam buka yang sangat panjang dibandingkan dengan toko-toko yang buka di saat itu. Walaupun saat ini mereka membuka tokonya selama 24 jam, nama 7-Eleven tidak pernah diubah lagi.Di Indonesia, gebrakan 7-Eleven cukup fenomenal. Convenience store ini hadir dengan konsep unik, sangat berbeda dengan konsep 7-Eleven di negara-negara lain, termasuk di negara asalnya. Mereka berhasil melakukan inovasi perubahan; dari toko belanja diubah menjadi toko belanja dan warung siap saji. Mereka berhasil melakukan analisis ke konsumen dan mendapatkan banyaknya anak muda kelas menengah yang senang nongkrong dan memerlukan tempat hang out yang nyaman dan beli produk yangfresh. Konon katanya, rata-rata jumlah transaksi di setiap gerai 7-Eleven mencapai lebih dari 1.000 transaksi per hari.


Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_convenience_stores#Indonesia

Pengantar Bisnis (tugas 1)

Judul Jurnal
Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, dan Leverage terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility (Studi pada Perusahaan-Perusahaan yang mendapat Penghargaan ISRA dan Listed (Go-Public) di Bursa Efek Indonesia (BEI) 2010-2012)
Edisi
Business Accounting Review, Vol. 2, No. 1, 2014
Kesimpulan
Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa ROA, Likuiditas, dan Leverage tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR, hal demikian dikarenakan sekarang banyak perusahaan yang sudah sadar akan kepentingan lingkungan dan sosial dan tidak hanya semata mencari keuntungan untuk perusahaan sendiri, sehingga tinggi rendahnya tingkat profitabilitas, likuiditas, dan leverage tidak mempengaruhi pengungkapan CSR (Sudana, 2011). Disisi lain, perbedaan subyek penelitian dimana sebelumnya subyek penelitian merupakan perusahan manufaktur antara tahun 2007-2011, sedangkan penelitian ini memiliki subjek penelitian yaitu perusahaan publik yang mendapat penghargaan ISRA tahun 2010-2012. Perbedaan metode juga dapat menjadi penyebab hasil penelitian tidak sejalan dengan peneliti terdahulu. Pengukuran pengungkapan CSR dimana hal ini diukur berdasarkan rekapan GRI yang sudah diukur oleh NCSR sehingga peneliti hanya merekap data tersebut, selain itu penilaian ini mengacu pada Sustainability Report (SR) , sedangkan penelitian sebelumnya mengacu pada annual report dan peneliti merekap sendiri(berdasarkan persepsinya) untuk pengungkapan item CSR. Perusahaan sekarang juga sudah mengerti mengenai manfaat yang dihasilkan CSR di kemudian hari dimana kegiatan ini dapat membangun citra perusahaan yang sehingga manfaat ekonomis di kemudian hari dapat diterima oleh perusahaan misalnya seperti kenaikan harga saham, memiliki banyak investor potensial, dan sebagainya. Hal semacam inilah yang membuat perusahaan kian termotivasi untuk selalu melakukan CSR beserta pengungkapannya tanpa bergantung pada tingkat profitabilitas, likuiditas, dan leverage perusahaan.
Dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR;
2) Likuiditas tidak berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR;
3) Leverage tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR
Analisis
Hasil Uji Hipotesis
1. Koefisien determinasi bernilai 0.175 yang berarti bahwa kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel pengungkapan CSR sebesar 17.5%, sedangkan sisanya sebesar 82.5% diterangkan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model.
2. Uji F
Nilai signifikansi uji F sebesar 0.023.Nilai yang lebih kecil daripada 5% menunjukkan bahwa model yang digunakan adalah layak dan dapat digunakan untuk analisis selanjutnya.
3. Uji t
Profitabilitas dan leverage tidak berpengaruh, sedangkan likuiditas berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR( (sig <0.05).
Penulis
Rafika Anggraini Putri dan Yulius Jogi Christiawan

Sumber : file:///C:/Users/presario%20cq40/Downloads/1364-2504-1-SM.pdf